EditorialKisahAtelierVenuesTentangFAQMulai Cerita

Sebuah Sabtu di Lereng Gunung

Ketika kabut turun tepat saat ijab kabul, kami tahu alam pun ikut menjadi saksi.

Ada pagi-pagi yang terasa berbeda. Bukan karena cuacanya cerah — justru karena tidak. Kabut tipis menyelimuti lereng ketika kami tiba, dan para tamu sudah duduk tenang di antara pepohonan pinus yang basah. Tidak ada musik keras. Tidak ada confetti. Hanya suara angin dan doa yang mengalir pelan. Pasangan ini sudah kami kenal delapan bulan sebelumnya. Mereka tahu persis apa yang mereka inginkan: bukan kemewahan yang mencolok, tapi keintiman yang tidak bisa dibeli. Kami merancang seluruh pernikahan itu di sekitar satu frasa yang mereka berikan kepada kami: "Seperti pulang ke rumah." Bunga-bunga dipilih dari kebun tetangga — bukan dari florist besar. Meja makan ditutupi kain linen tua yang sudah dicuci berulang kali hingga terasa seperti bagian dari alam. Dan ketika mereka berjanji, kabut itu seolah berhenti sejenak, sebelum kembali memeluk semuanya.

— Ditulis oleh Mentari Wedding —